Bagaimana Mengurangi Clingy Saat LDR?

shutterstock_468024758

Apa Itu Clingy?

Bagaimana Mengurangi Clingy Saat LDR

Via Lovepanky.com

Clingy bila diartikan secara harfiah, yaitu berpegang teguh atau berpegang pada sesuatu seperti mencengkeram, memeluk atau melingkar; tetap melekat tanpa pemisahan; tetap melekat secara emosional [1]. Dengan kata lain, clingy adalah hasrat untuk lekat atau dekat dengan sesuatu atau seseorang namun merasa tidak mudah ketika diminta untuk bersikap mandiri atau tidak bergantung dengan objek/subjek kelekatannya itu [2].

Kelekatan Dalam Cinta

Bagaimana Mengurangi Clingy Saat LDR

Via Themodernman.com

Kelekatan berperan penting di dalam sebuah hubungan romansa sama halnya seperti keamanan dan kenyamanan. Kelekatan atau attachment merupakan ikatan afektif terhadap orang lain dan secara normal, manusia akan terus bergantung pada hubungan keterikatan dengan orang lain terutama untuk saling melindungi dari marabahaya, kerentanan ataupun penyakit. Bowlby (1988) mengemukakan bahwa yang membedakan antara hubungan keterikatan dengan hubungan lainnya yakni adanya kebutuhan untuk mempertahankan kedekatan ketika masa-masa sulit, menjadikan sosok seseorang sebagai sandaran yang aman untuk bersama-sama mengarungi dunia dan menjadi seseorang sebagai tempat yang aman untuk memperoleh kenyamanan serta kepastian [3].

Clinginess bisa saja terjadi karena adanya peran attachment style atau gaya kelekatan yang berbeda pada setiap orang. Attachment style inilah yang kemudian dapat berimbas pada bagaimana seseorang berpikir, merasakan dan bertindak dalam hubungan romansanya. Para pencetus teori Perkembangan meyakini bahwa orang-orang dewasa muda belajar tentang cinta dan intimacy sejak berada pada fase remaja.

Erikson (1982) memaparkan bahwa pada fase bayi atau infant, seorang anak belajar basic trustterutama dengan orangtuanya dan ketika memasuki fase remaja awal hingga dewasa awal, seseorang belajar mengenali pikirannya, bagaimana mengembangkan gagasan dan tujuan, mengambil inisiatif, dan bekerja keras. Itu semua dilakukan oleh remaja untuk membentuk identitas dirinya.

Bagi seorang remaja yang sedang bertransformasi menuju dewasa muda, identitas diri yang ideal adalah ketika mereka bisa mengelola emosi dengan baik, bersikap independen/mandiri termasuk bagaimana cara mencintai serta menjalin keintiman hubungan dengan lawan jenisnya. Dalam sudut pandang teori Erikson ini pula, hubungan yang matang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menyeimbangkan keintiman dan kemandirian diri [4].

Pada beberapa dekade yang lalu, para pakar psikologi menelaah kembali bagaimana close relationship itu terbentuk sehingga terciptalah love schema dari adult attachment style yang berfungsi untuk mengelompokkan cara orang-orang dewasa dalam menjalin hubungan dengan pasangannya.

Setiap orang dewasa memiliki kapabilitas untuk membina hubungan dan kelekatan yang aman dengan pasangannya. Aman dalam artian tidak takut harus berpisah beberapa waktu dengan pasangan mereka. Namun, tidak semua orang mampu membina hubungan yang aman seperti itu. Apabila seseorang yang pada saat fase kanak-kanaknya terlalu lengket dengan orangtua dan merengek takut berjauhan dari orangtuanya walau sebentar, maka kemungkinan besar dia akan seperti itu juga saat dewasa kelak. Anak tersebut tidak akan belajar mengeksplor apa yang bisa diperoleh dari dunia sekitarnya dan bagaimana cara bersosialisasi dengan baik. Kelak saat dewasa, gaya kelekatan disertai kecemasannya itu mengubahnya menjadi clingy saat menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Brennan, Clark, dan Shaver di dalam jurnal yang ditulis oleh Daniel (2006) berjudul “Adult Attachment Patterns and Individual Psychotherapy” mengonseptualisasikan gaya keterikatan orang dewasa dalam acuan bingkai anxiety and avoindant behaviorAnxiety (kecemasan) dijadikan acuan bingkai yang menafsirkan sejauh mana seseorang peka terhadap isyarat penolakan dari orang lain atau orang yang diharapkan/dicintai. Dan avoidant (penghindaran) berkaitan dengan di level mana seseorang akan merasa tidak nyaman saat mengandalkan keterikatan terhadap orang lain untuk mendapatkan dukungan pada saat ia membutuhkan [5].

Bagaimana mengurangi clingy dalam LDR

Gaya keterikatan Brennan dan kawan-kawan ini kemudian oleh Cyranowski dkk (2002) [6] divisualisasikan ke dalam sebuah skema disertai makna dari masing-masing empat kuadrannya dan dapat kita lihat dalam gambar di bawah ini:

bagaimana mengurangi clingy saat LDR

  1. Orang-orang preoccupied memandang diri mereka adalah seseorang yang tak layak untuk dicintai namun senantiasa memberikan penilaian positif terhadap orang lain. Orang-orang ini disibukkan dengan upaya untuk mendapatkan cinta, berusaha agar diterima dan memiliki kedekatan emosional dengan orang lain. Orang ini juga sangat takut jika ditinggalkan dan cenderung suka menuntut kedekatan fisik. Mereka sering dilabeli sebagai seorang yang clingy.
  2. Orang yang dismissing menilai diri mereka sebagai orang yang layak untuk dicintai namun justru menilai orang lain yang tidak layak dan tidak bisa diandalkan. Mereka cenderung sukar dipercaya dan sering dinilai terlalu mandiri, suka menolak atau melepaskan diri dari hubungan keterikatan dengan siapapun.
  3. Orang yang fearful, adalah mereka yang menilai diri mereka maupun orang lain dalam pandangan yang negatif. Mereka menganggap diri mereka tak layak dicintai dan menilai bahwa orang lain juga kerap menolak mereka serta tak ada orang lain yang bisa mereka andalkan. Orang-orang fearful ini sebenarnya sangat mengharapkan hubungan yang intim namun mereka sulit untuk percaya terhadap orang lain, cenderung memiliki perasaan takut ditolak dan diabaikan sehingga sering menghindar dari pergaulan sosial.
  4. Secure people, yakni orang yang hangat, lovable, dapat diandalkan dan akan ada ketika dibutuhkan. Mereka juga merupakan pribadi yang menyenangkan dan bisa merawat hubungan kedekatan yang dijalani. Mereka menilai bahwa ketika mereka bisa mencintai orang lain maka seiring berjalannya waktu pasti akan ada pula seseorang yang tepat yang mencintai mereka.

Solusinya

Nah setelah kita mengetahui asal-muasal terbentuknya clinginess, lalu berikut hal-hal yang bisa kita lakukan guna meminimalisir sikap clingy tersebut:

  1. Latihlah kemampuan komunikasi

Komunikasi merupakan skill yang diperlukan untuk membangun sebuah relasi, termasuk hubungan dengan pasangan. Tidak perlu terlalu sering (setiap jam bahkan setiap menit) mencari tahu atau mengabari pasangan. Cukup berikan kabar seperlunya kepada pasangan setiap hari. Pilihlah metode komunikasi yang bisa membuat kalian nyaman satu sama lain misalnya melalui chat/pesan teks, telepon atau video call. Anda bisa belajar cara berkomunikasi yang asik dengan mengikuti Supreme Influential Communication atau Anda belajar sendiri melalui buku-buku pengembangan diri. Sampaikan hal yang memang perlu kamu share ke pasangan secara jujur dan terbuka, termasuk sharing kegiatan masing-masing atau sharing pikiran dan perasaan positif maupun negatif.

  1. Nikmati hidup dan cari kegiatan yang bermanfaat

Meski Anda dan dia sedang berhubungan ataupun sudah menikah tetapi Anda juga harus ingat bahwa kalian punya rutinitas dan “dunia” berbeda. Kalian punya hobi/minat, teman-teman, dan pekerjaan masing-masing. Jadi, pastikan Anda juga memberikan perhatian pada aktivitas dan dunia Anda sendiri saat sedang berjauhan dengan pasangan. Daripada terus-menerus “mematai-matai” pasangan dari jauh atau stalk media sosial dia, lebih baik cari dan lakukan sesuatu yang konstruktif seperti mengasah bakat yang Anda punya, belajar bisnis, atau mengikuti kegiatan sosial guna membantu sesama.

  1. Berikan ruang menyendiri saat sedang jenuh

Ada kalanya kejenuhan dalam hubungan itu muncul meskipun kalian sedang berjauhan. Saat pasangan sedang bosan, cobalah memberikan space untuknya menyendiri sementara. Berbagi cerita atau menanyakan kabar memang sah-sah saja, akan tetapi jika terlalu sering maka pasangan bisa saja merasa terkekang. Ingatlah bahwa bosan itu bukanlah tanda bahwa pasangan sudah tidak sayang lagi. Mungkin saja dia sedang benar-benar lelah karena banyak tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, atau masalah lain yang tidak ada kaitannya dengan hubungan kalian.

  1. Kelola kecemasan

Close relationship tidak lepas dari sebuah kelekatan. Gaya kelekatan yang digunakan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain pada masa dewasanya cenderung merupakan buah pembelajaran dari gaya kelekatan masa kecilnya bersama orangtua.

Gaya kelekatan yang diterapkan pada pasangan bisa saja merupakan hasil dari pengalaman masa lalu. Jika di masa lalu, Anda pernah mendapatkan perlakuan buruk dari orangtua atau orang lain semisal mantanmu, kendalikan kecemasan Anda karena belum tentu pasangan akan menyakiti sama seperti yang dilakukan orang lain di masa lalu. Jika perlu, beritahukan masalah kecemasan yang Anda alami pada pasangan secara jujur. Bagi Anda yang justru punya pasangan pencemas seperti itu, tidak ada salahnya untuk menanyakan guna mencari tahu apa penyebab pasangan Anda berperilaku seperti itu, mungkin benar bahwa dia punya masalah dengan basic trust-nya di masa lalu.

  1. Perluas pergaulan

Jauh dari pasangan bukan berarti Anda tidak boleh berhubungan dengan orang lain di sekeliling Anda. Kalau selama ini Anda enggan berhubungan dengan orang banyak karena tidak mudah percaya dengan orang lain, sesekali cobalah keluar dari zona aman Anda dan patahkan mindsetnegatif di kepala Anda. Dengan semakin banyaknya orang yang Anda temui, maka Anda akan lebih banyak belajar bagaimana cara memahami karakter, perilaku dan sikap orang lain, termasuk memahami diri Anda sendiri. Anda juga bisa lebih selektif dalam memilih manakah orang-orang yang perlu Anda masukkan dalam daftar inner circle atau yang perlu Anda waspadai. Selain itu, cara ini juga bisa membantu Anda untuk membangun kepercayaan pada diri sendiri maupun pada orang lain, bahkan kepada yaitu kekasih dan keluarga/kerabatmu.

Kelima hal di atas memang tidak menyembuhkan rasa clingy saat LDR, tapi setidaknya itu bisa mengurangi kadarnya agar tidak sampai membahayakan hubungan Anda kelak. Semuanya tergantung Anda sendiri, apa Anda ingin hubungan yang sehat atau tetap bergantung mati-matian ke pasangan?

REFERENSI

[1] Clingy

[2] Culture, Attachment Style and Romantic Relationships

[3] Bowlby’s Secure Base Theory and the Social/Personality Psychology of Attachment Styles: Work(s) in Progress

[4] The life cycle completed

[5] Adult attachment patterns and individual psychotherapy: A review

[6] Adult attachment profiles, interpersonal difficulties, and response to interpersonal psychotherapy in women with recurrent major depression

(kelascinta.com)

Yuk komen
Mohon disebarkan...