Beranikah Donald Trump memindahkan Ibukota Israel ke Jerusalem?

Image result for kushner and trump pic

Trump dan menantunya Jared Kushner

Perpindahan ibukota Israel dari Tel aviv ke Jerusalem adalah agenda penting bagi umat Yahudi dalam rangka bersiap menyambut New World Order yaitu datangnya “Al Masih mereka”  yang mereka yakini akan memimpin dunia dari Israel. Upaya itulah yang gencar dilakukan Trump dan menantunya Jared Kushner.  

Bagi  anda sudah banyak membaca artikel kita,  saya yakin anda akan mulai faham peristiwa demi peristiwa akhir zaman yang diisayaratkan Hadist dan satu demi satu kita saksikan bersama. Salah satunya adalah persiapan umat Yahudi menyambut “Al-masih” mereka yang umat Islam  tahu adalah Al-masih Dajjal.

Jika hal ini berhasil dilakukan , maka sangat gampang ditebak bahwa akan disusul dengan pembangunan Istana ketiga (The third Temple) di Jerusalem.The third Temple adalah istana yang akan disiapkan untuk “Al masih” mereka guna memimpin dunia dari Israel seperti halnya ketika kejayaan zaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, itu kepercayaan mereka.  

Difihak lain kita lihat  ada sekelompok orang yang mengaku Islam tapi justru giat membantu persiapan umat Yahudi menyambut Dajjal , maka tentu kita tidak bingung lagi karena sudah diisyaratkan  oleh Hadist berikut :

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi terakhir mereka akan bersama dajjal “ (HR. imam Thabrani)

 


Menantu Presiden AS Donald Trump yang adalah penasihat senior Jared Kushner berbicara tentang proses perdamaian antara Israel dan Palestina dengan merujuk adanya rumor bahwa Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Jared Kushner lahir tahun 1981 , sebelum menjabat penasehat senior Donald Trump dia adalah seorang investor yang besar dari keluarga Yahudi Orthodox  , dia adalah putra pengusaha real estate terkemuka AS Charles Kushner .

Mengingat adanya laporan bahwa Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel para rabu depan, menantunya dan penasihat senior Jared Kushner berbicara di Forum Saban dan menyatakan bahwa Trump masih mempelajari masalah ini dan diharapkan segera akan membuat sebuah keputusan. Upaya tarik ulur juga dilakukan Trump dengan menunda pemindahan Keduses AS dari Tel aviv ke Jerusalem.

Soal  kesepakatan damai antara Israel dan Palestina Kushber  menyebut . “Presiden memiliki latar belakang karir yang sangat panjang dalam menyelesaikan hal-hal yang menurut banyak orang tidak mungkin,” katanya. “Kami fokus pada apa yang terjadi setelah terjadi sebuah kesepakatan , yaitu bagaimana anda menciptakan lingkungan yang lebih baik ditataran bawah.” Kushner mengklarifikasi bahwa timnya mendengarkan kedua belah pihak secara setara untuk memahami “apa pandangan dan hambatan  mereka.”

Menantu Trump itu juga berbicara tentang Iran: “Jika Anda melihat tahun-tahun terakhir sebelum kami mulai bertugas (digedung putih), banyak negara merasa Iran menjadi negar yg pemberani dan tidak ada yang mengontrol agresi mereka. Sikap Presiden (AS)  telah sangat jelas  dalam masalah ini dengan mendekati  Arab Saudi dan meletakkan prioritas penting guna memerangi agresi Iran . ”

“Banyak negara di Timur Tengah menginginkan hal yang sama atas kemajuan ekonomi dan perdamaian bagi rakyatnya,” tambahnya. “Keinginan banyak negara di kawasan ini yang menganggap Israel sebagai sekutu sekarang  jauh lebih besar daripada dua puluh tahun yang lalu, semua  karena (adanya kesamaan musuh) yaitu Iran.”

Kushner dan Muhammad bin Salman soal Jarusalem

Penasihat senior Donald Trump yang juga menantunya  Jared Kushner  telah mengadakan pembicaraan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tentang Jerusalem.

Arab Saudi nampaknya akan mendukung upaya memindahkan ibukota Israel dari Tel aviv ke Yerusalem ini , hanya saja hal ini dibungkus dengan rapih dengan dalih mendukung upaya untuk membangun Negara Palestina yang akan didanai Saudi.

Kushner dan Mohammed bin Salman telah melakukan negosiasi untuk medirikan dan membangun sebuah negara Palestina yang didanai oleh Saudi, Bloomberg mengatakan, walaupun pembicaraan rahasia tersebut telah membuat marah Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.

Menantu Trump dan pangeran mahkota Saudi telah menjalin hubungan yang erat meskipun Menlu Tillerson dikatakan sangat marah karena tidak dberi informasi  dalam masalah Palestina itu.

Konflik Kushner dengan Menlu Rex Tillerson

Tillerson khawatir hubungan antara kedua orang  itu bisa mendorong area tersebut ke dalam kekacauan yang lebih dalam karena  Kushner belum transparan dengan Departemen Luar Negeri dalam urusannya dengan Muhammad  bin Salman.

Trump telah berjanji untuk menjadikannya prioritas penting atas kebijakan luar negerinya untuk mengadakan kesepakatan damai antara Israel dan Palestina, dan telah menugaskan menantu laki-laki tersebut untuk menjalankan tugas tersebut. “Masalahnya, penasihat presiden senior itu tidak berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri dan tidak jelas tingkat konsultasi yang berlanjut dengan (DDK PBB) itu,” kata seorang sumber kepada Bloomberg.

Isu friksi antara Kushner dan Tillerson sebenarnya tidak terlalu penting  karena Nampaknya hanya soal kekhawatiran Tillerson dalam  posisinya sebagai menlu AS akan digeser oleh menantu Trump itu.  

Sikap  Mahmoud Abbas

Sesaat sebelum Kushner berbicara, Presiden Palestina Mahmoud Abbas memperingatkan bahwa pengakuan Amerika atas Yerusalem sebagai ibukota Israel akan membahayakan upaya perdamaian Timur Tengah yang dilakukan Gedung Putih.

“Langkah Amerika yang terkait dengan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, atau memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, merupakan ancaman bagi masa depan proses perdamaian dan tidak dapat diterima oleh masyarakat  Palestina, Arab dan internasional,” Abbas mengatakan hal itu kepada para Anggota parlemen Arab dari Israel, menurut kantor berita resmi Wafa.  

Yordania dan Mesir menentang upaya Trump

Menteri luar negeri Yordania dan Mesir sebagai  satu-satunya negara Arab yang menandatangani sebuah perjanjian damai dengan Israel, memperingatkan terhadap keputusan yang akan diambil oleh pemerintahan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi dalan tweetnya menyatakan bahwa dia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson tentang konsekuensi berbahaya dari tindakan tersebut.

“Keputusan tersebut akan menghasilkan kemarahan besar di seluruh dunia Arab dan Muslim, yang hanya akan menimbulkan ketegangan lebih lanjut ditengah upaya untuk membangun perdamaian,” tulisnya.

Sumber:

  • https://analisaakhirzaman.com
Yuk komen
Mohon disebarkan...