pengusaha gila

Cara Gila Jadi Pengusaha

Judul di atas memang meminjam istilah dari Pak Purdie Chandra sang pemilik Primagama untuk mengambarkan cerita yang akan saya sampaikan dalam artikel ini.

Cerita ini terinspirasi setelah saya mendengar audiobooks Pak Tung Dengsem yang merupakan kisah nyata dan mungkin anda pun pernah mendengarnya. Tapi di sini saya akan mencoba menceritakan kembali dengan sedikit modifikasi bagaimana cara menjadi pengusaha dengan cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sebut saja pak Aryo mempunyai tanah seluas 15 hektar yang sudah lama menganggur dan beliau sudah berusaha keras menjualnya namun tidak ada orang yang tertarik membeli walaupun dengan harga yang paling rendah, sebut saja 100 ribu/meter. Ingin dibuat tempat usaha pun memerlukan modal yang sangat besar untuk mengelola tanah seluas itu.

Saat itu beliau berpikir bagaimana menjual tanah itu dengan mudah namun dengan harga yang tinggi. Loh bagaimana sih? Jual harga rendah aja susahnya minta ampun gimana dengan harga yang tinggi? Kita lihat saja lanjutan ceritanya.

Akhirnya pak Aryo mempunyai ide yang menurutnya sangat gila. Mulailah rencana tersebut dengan menggambarkan keadaan tanahnya dan pengukuran luasnya dengan desain proposal yang sangat menarik.

Setelah memutuskan untuk ditawarkan ke mana, beliau akhirnya memutuskan untuk menawarkan tanahnya ke sebuah developer hotel bintang lima. Bertemulah dia dengan sang pemilik. Setelah melihat proposal tersebut si pemilik hotel mengatakan dia tidak tertarik. Tapi apa tanggapan dari pak Aryo, dia mengatakan,

“Jangan memutuskan sekarang, datang dan lihat saja dulu kondisi tanah dan pemandangan sekitarnya. Kemudian ukur luas yang anda butuhkan untuk mendirikan sebuah hotel bintang lima. Bila luas tanah yang anda butuhkan masuk akal maka akan saya berikan G R A T I S…”

Mendengar kata “GRATIS” si pemilik hotel langsung menimbang kembali keputusannya dan memutuskan untuk melihat tanah tersebut. Setelah ia melihatnya dia memutuskan untuk membangun sebuah hotel di tanah tersebut. Tapi pak Aryo memberi syarat agar si pemilik memasang papan nama bertuliskan “DI SINI AKAN DIBANGUN SEBUAH HOTEL BINTANG LIMA”, dan juga meminta si pemilik untuk menawarkan kepada koleganya sisa luas tanah tersebut tapi jangan bilang kalau ia mendapatkannya dengan gratis. Si pemilik hotel setuju.

Dengan adanya bangunan hotel bintang lima maka nilai tanah pak Aryo akan meningkat 20 kali lipat dari harga sebelumnya. Kemudian dia menjalankan rencana selanjutnya yaitu menawarkan tanahnya ke developer lapangan golf yang paling terkenal.

Setelah si pemilik lapangan golf melihat proposal, seperti si pemilik hotel, awalnya beliau tidak tertarik dengan tanah tersebut. Lagi-lagi pak Aryo menawarkan penawaran gilanya kepada si pemilik lapangan golf.

“Jangan memutuskan sekarang, datang dan lihat saja dulu kondisi tanah dan pemandangan sekitarnya. Kemudian ukur luas yang anda butuhkan untuk mendirikan sebuah lapangan golf. Bila luas tanah yang anda butuhkan masuk akal maka akan saya berikan G R A T I S…”

Dan lagi-lagi mendengar kata “GRATIS” si pemilik lapangan golf langsung menimbang kembali keputusannya dan memutuskan untuk melihat tanah tersebut. Setelah ia melihatnya dia memutuskan untuk membangun sebuah lapangan golf di tanah tersebut. Pak Aryo pun memberikan syarat yang sama dengan memasang papan nama bertuliskan “DI SINI AKAN DIBANGUN SEBUAH LAPANGAN GOLF” dan tidak boleh memberitahukan koleganya kalau ia mendapatkan tanah ini dengan gratis. Si pemilik lapangan golf pun setuju.

Senanglah hati pak Aryo karena dengan adanya 2 bangunan yang cukup menjual berarti nilai tanahnya akan naik menjadi 30 kali lipat. Anggap saja tanah yang dia gratiskan 5 hektar, berarti dia masih punya 10 hektar yang sangat potensial untuk dijual. Dengan asumsi 3 juta/meter maka paling sedikit dia akan mendapatkan 300 milyar. Sungguh angka yang luar biasa hanya dengan bermodalkan proposal dan kekuatan negosiasi.

Saat dia mulai menjual pada pembeli pertama, dia mengandalkan bangunan hotel dan lapangan golf kepada pembeli bahwa tanah dia sangat potensial dan akhirnya dia berhasil menjual sisa-sisa tanahnya dengan harga yang makin naik seiring dengan bangunan-bangunan yang dibangun di sekitar tanahnya dari para pembeli yang mendirikan usahanya masing-masing ditanah tersebut.

Pak Aryo tidak hanya menjual semua sisa tanahnya tapi juga menyewakan tanah tersebut dan juga ia mendirikan bisnis ditanahnya sehingga selain mendapat income dari penjualan tanah, ia juga mendapatkan income rutin dari penyewaan dan bisnisnya.

Cerita di atas memang menarik jika kita mempunyai tanah tersebut. Tapi bagaimana jika kita tidak mempunyai tanah? Mudah saja!

Dalam audiobooks Tung Dengsem disarankan anda cari orang yang memiliki tanah yang luas dan potensial namun tidak laku-laku dijual. Loh dari mana duitnya? Lihat dulu kelanjutannya.

Anda temui si pemilik tanah. Misalnya luas tanah 10 hektar dan si pemilik menawarkan 200 ribu/meter tapi anda tawarkan ke si penjual 20% lebih tinggi jadi 240 ribu/meter. Di jamin si penjual akan langsung tertarik. Loh kok nawar malah lebih tinggi?!

Iya lebih tinggi, tapi anda mengajukan syarat ke si penjual anda minta opsi bahwa akan membayar tanah tersebut 1 tahun kemudian dan selama 1 tahun jangan dijual ke siapapun. Hitung-hitung si penjual seperti depo tanahnya dengan bunga 20%/tahun!

Tapi bila si penjual bertanya bagaimana kalau 1 tahun kemudian anda tidak bisa membayar. Ya tidak apa-apa, toh selama ini tanahnya tidak laku-laku dan tanah tersebut belum resmi dijual kepada anda, jadi kalau sampai 1 tahun anda tidak berhasil menjualnya ya transaksi dengan si pemilik tanah tidak jadi.

Bila si pemilik tanah setuju dengan syarat anda, barulah anda lakukan seperti yang pak Aryo lakukan di atas. Tidak usah persis sama, minimal sesuai dengan kemampuan anda bernegosiasi. Jadi anda bisa jadi pengusaha tanpa modal uang yang besar dan bahkan tanpa aset dari anda.

Cara-cara di atas memang sering dilakukan oleh mereka yang lebih sering menggunakan kekuatan otak kanan yang kadang mereka memiliki cara-cara yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang yang cenderung menggunakan otak kiri. Karena bagi orang-orang otak kiri cara-cara tersebut tidak masuk akal, tidak mungkin dan mereka lebih pesimis sebelum menjalakannya. Orang-orang yang sukses suka melakukan apa yang orang gagal tidak suka lakukan.

Keunggulan kita bukan pada kita kaya atau tidak, kita punya modal uang besar atau tidak. Kalau memang kekayaan dan uang itu modal utama supaya kita berhasil, ternyata banyak orang kaya yang bangkrut, anak konglomerat yang tidak berhasil, pejabat yang tidak sukses, keluarga bangsawan yag rapuh.

Modal untuk sukses itu sesungguhnya adalah diri anda sendiri, ya.. Diri anda sendiri, dengan segala kelengkapannya, dari panca indra, akal, hati, kejujuran, keyakinan, kemandirian, ketangguhan, percaya diri, kerendahan hati dan kharisma yang semua itu Allah telah berikan secara cuma-cuma kepada anda!

So… Tidak ada alasan untuk tidak sukses hari ini. Selamat Mencoba!

M. Rian Rahardi

Founder Beraniegagal.com

(beranigagal.com)

Yuk komen
Mohon disebarkan...