Bimbingan Machiavellis Bagi Bisnis Modern

Bagian 3

 

Kapitalisme

sahoobi.comSebagaimana dikatakan oleh Big Al pada tahun 1929, “Sistem Amerika kita – entah itu Amerikanisme, entah itu Kapitalisme, atau apa pun juga sebutan yang kau berikan – memberikan pada setiap
orang kesempatan yang besar hanya jika kita meraihnya dengan kedua tangan dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.”

Jika penegasan dari Al Capone itu tidak kamu sukai, berikut ini adalah pandangan dari seorang juru bicara yang sama-sama terkemuka dari dunia sah, yaitu Abraham Lincoln, pada 1837: “Para kapitalis ini pada umumnya bertindak secara harmonis, dan padu, untuk membelejeti publik.”

Membelejeti publik, tentu saja, adalah hakikat sejati bisnis, meskipun isi pikiran itu barangkali bisa diutarakan dengan tidak sedemikian telanjang. Tetapi siapa berani mendebat Lincoln? Membelejeti publik? Tentu saja. Bukankah sasaran kapitalisme adalah untuk semakin memperkaya orang yang mempunyai uang untuk diinvestasikan (dengan kata lain, orang yang memang sudah kaya).

Itulah sebabnya anak-anak kaya biasanya merasa enak mempunyai ayah yang mewariskan jackpot pada mereka. Itu juga alasan mengapa lebih baik menjadi kaya daripada miskin di bawah sistem kapitalisme.

Di Urusan Kami, kami mencintai kapitalisme. Kami juga anak-anak yang manis dari sudut pandang lain, sungguh. Asal kamu tidak utang uang pada kami.

Si Kaya

Hukum — ya hukum yang agung dan tidak memihak itu, kata mereka-melarang baik si kaya maupun si miskin untuk tidur di bangku-bangku taman. Dalam semua hal lain, meskipun tidak ada
warta berita mengenai hal ini (tetapi kita bisa menyaksikannya setiap hari), hukum memihak harta. Artinya, uang tidak pernah masuk bui.

Kamu bisa kaya tanpa tahu bagaimana menjadi berkuasa (tetapi kamu tidak bisa menjadi berkuasa tanpa uang). Hampir semua orang kaya adalah kaya karena warisan, dan mereka percaya mereka mendapatkan kekayaan itu sebagai karunia Dahi. Mereka dibesarkan dengan kepercayaan yang mendalarn pada (dan dengan “menghayati”) superioritas kodrati mereka (karena Tuhan mengatakannya demikian), dan, dengan demikian, mereka nyaris tidak memiliki simpati sama sekali (dan empati sarna sekali) bagi
mereka yang harta duniawinya jauh di bawah mereka.

Mereka pereaya bahwa kemiskinan, misalnya, adalah juga karunia Tuhan, persis sepertiharta mereka, dan dengan demikian adalah nalar bahwa orang-orang yang hartanya jauh di bawah mereka adalah makluk-makluk rendahan.

Gagasan menipu, mengakali, atau mencuri dari mereka biasanya tidak melintas di benak orangorang kaya. (Uang dan harta mereka adalah milik mereka berdasarkan hak Ilahi.) Dengan demikian mereka merupakan rekanan-rekanan yang menarik, bahkan musuh-musuh yang menarik.

Kamu bisa meneukur gundul seekor domba berkalikali; tetapi kamu hanya bisa satu kali mengulitinya tetapi orang kaya adalah makluk yang aneh: Kamu bisa menggunduli sekaligus menguliti dia berkali-kali.

Ini dikatakan untuk membuatmu waspada pada fakta bahwa kamu akan selalu senewen pada firma yang dipimpin oleh orang yang dilahirkan kaya, bahwa kamu akan berhubungan dengan jenis binatang yang ganjil, yang berbeda jauh dari musuh bebuyutanmu, dan kamu harus bertindak dengan taktik yang sesuai. Dia-si kaya tadi-sering kali tidak lebih dari sebatang permen Kojak jika sudah terpojok.  Sepanjang hidup dia bermain sepakbola seakan-akan itu adalah olahraga yang tak perlu berbenturan dengan lawan. Paham?

Apa pun juga yang terjadi, ingatlah selalu bahwa peluang utamanya ada dalam bisnis-bisnis yang menguliti kaum miskin, atau setidak-tidaknya bukan kaum ultrakaya. Seeara total ada ratusan juta orang tak begitu kaya dan jauh lebih banyak lagi bisa diraih dari jutaan orang ini. Ingat saja keberhasilan jangka panjang dari perusahaan-perusahaan seperti Firestone, Ford, General Motor’s, Du Pont, Union Carbide.

Yuk komen
Mohon disebarkan...