Rendang Belut Mak Nun

PENERBANGAN PERTAMA DI DUNIA: PENERBANGAN IBNU FIRNAS

Saat anda ditanya oleh seseorang, “Siapa manusia pertama di dunia yang berhasil terbang ke atas langit?”, kira-kira siapa orang yang terlintas di benak anda? Roger Bacon? Da Vinci? Eilmer? Atau mungkin George Calley? Atau paling tidak, yang paling terkenal: Wright bersaudara? Namun, bagaimana jika ternyata mereka semua bukanlah jawabannya?

Bagaimana jika saya mengatakan kepada anda bahwa beratus-ratus tahun sebelum mereka lahir, seorang Saintis Muslim; Ibnu Firnas telah berhasil terbang untuk pertama kalinya di dunia dengan alat terbang buatannya?

Lahir di Barabarah pada sekitar tahun 810 M. berasal dari keturunan bangsa Berber (etnis Afrika Timur) Spanyol, kabilah Botr atau Barnes, Abu al-Qasim ‘Abbas bin Firnas bin Firdas at-Takurriny, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Firnas, seorang penyair Arab, pakar Grammatika Arab, Astronom, Matematikawan, Dokter, pakar Kimia, Farmasi, Arsitektur, dan Insinyur Mekanik Muslim. Beliau bermukim di Takurrina (sekarang Ronda, Spanyol). Beliau juga disebut sangat mahir berbahasa Yunani, di mana beliau telah menerjemahkan beberapa manuskrip kuno Yunani ke bahasa Arab.

Ibnu Firnas memulai studinya dengan mempelajari al-Qur’an al-Karim dan dasar-dasar ilmu Syari’at Islam di Kuttab (Sekolah anak-anak) di Takurrina/Takarta. Kemudian beliau melanjutkan studi beliau di Masjid al-Kabir Cordova, di mana memang Masjid masa itu menjadi pusat pendidikan dan keilmuan, dan Cordova saat itu adalah pusat peradaban Islam di Barat, tempat tujuan para penuntut ilmu dari kalangan Arab maupun non-Arab.

Di masjid tersebut, beliau terjun di tengah-tengah diskusi, pertukaran pikiran, perdebatan, simposium, dan khutbah di berbagai cabang ilmu Sya’ir, Sastra, dan Bahasa Arab. Lalu disebabkan cemerlangnya akal Ibnu Firnas dan kemumpunan beliau di ilmu Sastra, para Sastrawan dan penyair beserta para pakar Bahasa Arab Andalusia duduk berkumpul di sekitar beliau untuk menggali kembali misteri cabang-cabang ilmu Bahasa Arab, seperti ilmu al-Badi’, ilmu al-Bayan, Balaghah, dll. Di antaranya beliau disebut-sebut mampu mengulas makna-makna tersirat dari kitab ‘al-‘Arudh’ (ilmu penimbang rima syair Arab) karya al-Farahidy (718-791 M.), pakar terbesar di bidang Bahasa dan Sastra Arab di abad ke-8 M.

Ibnu Firnas telah terbimbing kepada penemuan-penemuan baru yang belum pernah terjamah oleh para ilmuwan sebelumnya. Dan cukuplah pujian orang-orang yang hidup di zamannya berikut ini menggambarkan siapa beliau:

“(Ibnu Firnas) adalah yang terunggul dari para tokoh yang pernah ada. Mengungguli rekan-rekannya di bidang Sains Natural, Astronomi, Matematika, Medis, Farmasi, Kimia, Arsitektur, dan Mekanika, serta seluruh pengetahuan yang rumit dan sastra yang tinggi. Beliau adalah pelopor penerapan teori ilmu pengetahuan melalui eksperimen. Oleh karenanya beliau berhak mendapatkan gelar sebagai ‘Hakim al-Andalus’.”

‘Hakim al-Andalus’ bermakna ‘Orang Terbijak Andalusia’. Dan gelar ini pada zaman dahulu diberikan kepada orang yang menguasai banyak bidang ilmu sekaligus. Bahkan tidak hanya itu, beliau juga handal di bidang menghubungkan antara suatu bidang keilmuan dengan bidang keilmuan lainnya. Misalnya, seperti penelitian dan studi beliau di bidang Kimia sangat membantu keilmuan beliau dalam bidang Medis dan Farmasi, termasuk juga inovasi produksi Kaca yang beliau temukan.

Ibnu Firnas tinggal sezaman dengan pemimpin Andalusia al-Hakam bin Hisyam (770-822 M.), lalu anaknya Abdur-Rahman (792-852 M.), lalu cucunya Muhammad (823-886 M.). Dahulu Ibnu Firnas terkenal dekat dengan para penguasa Andalusia (Dinasti Umayyah) serta dengan para penyair Istana. Sampai-sampai karena kedekatannya, Abdur-Rahman bin al-Hakam menjadikan Ibnu Firnas sebagai gurunya di bidang Astronomi.

gambar: Dirham yang dicetak di zaman Abdur-Rahman bin al-Hakam di awal abad ke-9 M.

Namun sangat disayangkan, tidak ada satu pun sisa-sisa dari karya asli beliau yang sampai kepada kita. Satu-satunya yang tersisa hanyalah kisah-kisah tentang beliau yang diriwayatkan dalam syair-syair Arab dan persaksian orang-orang yang hidup di zaman beliau dalam literatur-literatur Sejarah dan manuskrip-manuskrip kuno Andalusia (Spanyol).

Di antara penemuan ‘Abbas bin Firnas yang paling banyak memberi pengaruh adalah:
1. Alat Penerbangan
2. Parasut
3. Kristal
4. Planetarium (Kubah Langit Buatan)
5. Metronom
6. Pena Tinta
7. Produksi Kaca Transparan dari Batu dan Tanah
8. Jam Air ‘al-Miqatah’
9. Global Astrolobe (Planisphere/Armillary Sphere)
10. Lensa Mata (di zaman itu disebut dengan ‘Batu Pembaca’)

gambar: Armillary Sphere yang dikembangkan dari Armillary Sphere Peradaban Islam terdahulu yang lebih dikenal dengan Astrolobe berbentuk Globe
gambar: Manuskrip kuno Armillary Sphere dari salah satu karya ilmuwan Muslim
gambar: Armilly Sphere genggam dari Peradaban Islam yang tersisa
gambar: Planisphere modern

Namun, dalam kesempatan kali ini saya hanya mampu mengulas 2 penemuan Ibnu Firnas teratas saja. 2 penemuan yang telah memberi sumbangsih besar bagi dunia penerbangan, sekali pun Sejarah mungkin tidak sengaja melupakannya.

ALAT PENERBANGAN IBNU FIRNAS, ALAT PENERBANGAN PERTAMA DI DUNIA

1. Penerbangan Pertama: di Cordova 852 M.
Penerbangan ini beliau lakukan dari atas menara Adzan Masjid al-Jami’ al-Kabir di Cordova. Alat penerbangan beliau saat itu adalah sepotong jubah besar dan luas berbentuk layaknya 2 sayap burung dengan bantuan rangkaian kayu.

Pada mulanya beliau berharap agar beliau bisa terbang layaknya burung, namun sayang beliau tidak bisa melakukannya. Penerbangan ini gagal. Beliau hanya melompat dan terjun ke daratan. Hanya saja untungnya, alat penerbangannya tadi memperlambat jatuhnya Ibnu Firnas ke daratan, sehingga nyawanya terselamatkan, dan tidak ada bahaya yang menimpa beliau kecuali luka-luka ringan.

Dapat kita katakan bahwa Ibnu Firnas, dengan penerbangannya pada tahun 825 M. telah menginspirasi gagasan Parasut pendaratan. Di antara para ahli yang pernah mendeskripsikan Parasut sederhana Ibnu Firnas ini adalah John Lienhard dalam bukunya ‘The Engines of Our Ingenuity’, beliau berkata:

“Pada tahun 852 M., seorang pemimpin baru beserta eksperimennya yang unik: seorang pribadi pemberani yang dikenal dengan nama ‘Abbas bin Firnas terbang dari atas menara di Cordova (Spanyol). Dan beliau telah mendarat di atas Bumi untuk kedua kalinya dengan menggunakan jubah besar yang berbentuk 2 sayap untuk mengurangi kecepatan jatuhnya. Karena pendaratan tersebut beliau pun harus mengalami cedera ringan.”

gambar: Masjid Jami’ al-Kabir (Great Mosque) Cordova
gambar: Menara Masjid Jami’ al-Kabir Cordova

2. Penerbangan Kedua: di Cordova 875 M.
Di umur Ibnu Firnas yang ke-65, setelah mempelajari penerbangannya yang pertama, beliau melakukan penerbangannya yang kedua. Para saksi yang menyaksikan eksperimen ini, -sebagaimana tertulis dalam beberapa manuskrip zamannya- menyebutkan bahwa Ibnu Firnas kali itu menggunakan alat terbang yang memiliki 2 sayap besar, yang beliau buat dari kain sutera dan bulu elang. Penerbangan ini dilakukannya dari sebuah gunung di kawasan ar-Rushafah, daerah pinggiran Cordova, dekat gunung al-‘Arus.

Setelah Ibnu Firnas memberikan sentuhan terakhirnya pada alat terbangnya tersebut, beliau memberi renggang waktu agar orang-orang berkumpul untuk menyaksikan penerbangannya. Lalu ketika mereka telah berkumpul, beliau tampil di hadapan mereka dengan mengenakan pakaian pilotnya yang terbuat dari sutera yang tertutupi bulu-bulu elang yang diikat menggunakan potongan-potongan kain sutera yang mahal. Di sana pun, Ibnu Firnas menjelaskan kepada khalayak tentang teknis penerbangan yang akan dilakukannya dengan menggunakan kedua lengannya.

Lalu beliau berkata: “Dan sekarang, aku meminta izin kepada kalian untuk terbang di udara layaknya seekor burung. Apabila perkaranya berjalan sesuai dengan yang diinginkan, maka aku akan kembali kepada kalian dengan selamat.”

Ibnu Firnas ikat dirinya pada alat tersebut, lalu melompatlah beliau dari puncak gunung. Beliau pun terbang begitu tinggi di langit lebih dari kisaran waktu 10 menit, sebelum akhirnya beliau jatuh secara vertikal ke atas tanah. Alat terbang beliau menabrak dan salah satu ruas tulang punggung beliau patah.

Dari eksperimen ini, beliau mendapatkan sebuah pencerahan mengenai tugas ekor dalam penerbangan dan pendaratan. Beliau sempat berkata pada salah seorang teman karibnya, bahwa burung biasanya mendarat dengan mempergunakan pangkal ekornya, sementara alat terbang beliau tidak memiliki ekor.

Dan berikut ini salah satu kesaksian dari saksi mata penerbangan pertama di dunia ini: “(Ibnu Firnas) telah terbang begitu jauh, seakan-akan dia adalah seekor burung. Akan tetapi ketika dia hendak mendarat ke arah tempat lepas landasnya tadi, (terjadilah kecelakaan) sehingga dia terluka di bagian punggungnya. Kecelakaan ini terjadi dikarenakan dia tidak menggunakan ekor. Dia saat itu belum memperhatikan bahwa burung apabila ia mendarat, ia akan turun dengan mempergunakan ekornya.”

Dengan penerbangan ini, Ibnu Firnas tercatat sebagai orang pertama di dunia yang pernah melakukan penerbangan menggunakan alat penerbangan, mendahului Eilmer of Malesbury, seorang Biarawan Kristen asal Inggris yang pernah melakukan eksperimen penerbangan di Inggris antara tahun 1000-1010 M.

gambar: Ilustrasi dari Penerbangan kedua Ibnu Firnas
gambar: Replika Ibnu Firnas dan Alat Terbangnya di sebuah event
gambar: Cordova Andalusia beserta pegunungannya

MISTERI ORNITHOPTER DAN KARYA-KARYA IBNU FIRNAS YANG HILANG

Cedera yang menimpa Ibnu Firnas pada penerbangannya yang kedua, -sangat disayangkan-, harus mencegahnya dari penerbangan yang ketiga. Walau demikian, beliau tetaplah seorang penemu agung yang pernah sejarah kenal. Sehingga amatlah mustahil bila beliau tidak pernah mendeskripsikan alat terbangnya ini kepada seseorang siapa pun dia. Sebagaimana amatlah pasti beliau telah mengarahkannya kepada seseorang siapa pun dia untuk membuat alat terbang impiannya yang terbaru, dan melatihnya.

Alat terbang terbaru Ibnu Firnas inilah yang kemungkinan besar disebutkan dalam manuskrip kuno Roger Bacon (1214-1292 M.), seorang Saintis Inggris terkemuka abad ke-13 M. yang disebut-sebut sebagai Bapak Sains Eksperimental Modern (walau gelar ini akan kita perbincangkan di artikel khusus tentang Bacon). Ia menuliskannya pada karyanya “On The Marvellous Powers of Art and Nature”. Bacon menyebutkan bahwa ada 2 cara bagi manusia untuk terbang di angkasa.

Pertama, dengan menggunakan suatu alat yang dikemudian hari dikenal dengan ‘Ornithopter’. Alat ini adalah pesawat dengan 2 sayap yang menyerupai sayap burung, namun tanpa memiliki mesin penggerak. Sebuah alat terbang yang diduga kuat terilhami dari alat terbang kedua Ibnu Firnas yang diujinya pada tahun 875 M. sebagaimana yang akan kita jelaskan lebih lanjut.

Kedua, dengan menggunakan bola yang dipenuhi dengan udara tipis (ringan). Katakan saja, cikal bakal dari Balon Udara yang kita kenal hari ini. Kita juga bisa sebut bahwa alat ini adalah pengembangan dari Parasut/Alat Terjun Payung. Sementara itu, penemuan Parasut sendiri memiliki hubungan yang kuat dengan penerbangan Ibnu Firnas pertama pada tahun 852 M. sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

Lalu setelah menyebutkan keduanya, Bacon menyatakan sebuah perkataan yang mengandung misteri:

“There is an instrument to fly with, which I never saw, nor know any man that hath seen itu, but I full well know by name the learned man who invented the same.”

“Masih ada alat terbang lain yang pernah digunakan manusia, namun aku tidak pernah melihatnya sama sekali. Aku pun tidak tahu siapa orang yang pernah melihatnya. Akan tetapi aku benar-benar mengetahui nama lengkap dari ilmuwan yang pernah membuatnya.”

Misteri inilah yang memicu timbulnya teori bahwa Ibnu Firnas memiliki alat terbang ketiga yang tidak ditemukan hingga saat ini. Sebab kita mengetahui bahwa Roger Bacon pernah menempuh studi di Cordova, kota tempat Ibnu Firnas tinggal. Sehingga sangatlah mungkin jika Bacon mengetahui kisah tentang alat terbang Ibnu Firnas yang satu ini. Bahkan, sebagaimana baru saja kita ulas, teori Ornithopter yang Bacon deksripsikan sangatlah mungkin dibangun di atas teori-teori yang sempat tercantum di atas manuskrip-manuskrip kuno ilmuwan Islam Andalusia (Spanyol), -murid-murid Ibnu Firnas- yang telah hilang bersamaan dengan runtuhnya Khilafah Islamiyah di negeri Andalus.

Bahkan bukan hanya alat ini, seluruh penemuan dan riwayat hidup Ibnu Firnas hanya bisa kita ketahui melalui syair-syair dan riwayat sejarah yang sempat menyebutkan secuil dari kehidupan agungnya. Ibnu Firnas wafat pada tahun 887 M. Sementara karya-karya agung beserta penemuan beliau tidak ada satu pun yang tersisa hingga hari ini. Seluruhnya raib dan hilang meninggalkan misteri.

Belum lagi, fakta pencurian karya-karya ilmiah yang banyak dilakukan Roger Bacon terhadap karya-karya ilmiah para ilmuwan Islam Andalusia semakin menambah gelap misteri ini. Anda akan membaca ‘pencurian Bacon’ ini lebih khusus in sya Allah pada artikel khusus kami selanjutnya.

gambar: Manuskrip Kuno Ornithopter yang didesain oleh Da Vinci (salah satu tokoh penting Renaissans dari abad ke-15 M.)
gambar: Replika mini dari Ornithopter Da Vinci
gambar: Pengembangan dari Ornithopter

SUMBANGSIH IBNU FIRNAS UNTUK DUNIA PENERBANGAN MODERN

1. Teknik Melawan Gaya Gravitasi Bumi
Ibnu Firnas dalam eksperimennya memilih bulu-bulu elang, kain sutera, dan kayu sebagai bahan pembentuk alat terbangnya. Praktik ini beliau bangun di atas teori bahwa benda fisik yang hendak terbang haruslah ringan untuk mengalahkan gaya tarik Gravitasi Bumi.

2. Teknik Lepas Landas Paralayang dan Gantole (Hand Gliding)
Ketika Ibnu Firnas melakukan penerbangan, beliau memilih tempat yang tinggi sebagai tempat lepas landas (take off). Dan beliau memulai penerbangan dengan menjatuhkan diri beliau dari tempat tinggi tersebut. Teknik inilah yang hari ini kita saksikan sebagai teknik penerbangan Paralayang/Gantole.

gambar: Lepas Landas (take off) Gantole (Hand Gliding) dari ketinggian

3. Teori Struktur Ornithopter
Sebagaimana telah lalu dalam penjelasan mengenai Ornithopter, sangat amat mungkin bila Roger Bacon mengambil konsep Ornithopter-nya dari manuskrip-manuskrip kuno Andalusia yang mencatat ide dan konsep Ibnu Firnas beserta murid-muridnya. Sebab Ornithopter -menurut sejarah- pertama kali dikenalkan oleh seorang Roger Bacon.

Maka di sini ada dua kemungkinan, Pertama: konsep Ornithopter bukanlah asli milik Bacon, namun dia mengambilnya dari karya-karya ilmuwan Andalusia. Kedua: konsep ini benar-benar milik Bacon, namun dia membuatnya dengan merujuk kepada konsep Ibnu Firnas dan mengembangkannya.

Anggaplah saja kita ambil kemungkinan kedua. Maka model alat terbang Ibnu Firnas pada tahun 875 M. telah menjadi cikal bakal struktur Ornithopter Bacon. Sementara itu, struktur Pesawat modern hari ini bersandar pada struktur Ornithopter yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari zaman ke zaman. Maka berlandaskan di atas kemungkinan ini, Ibnu Firnas telah meletakkan dasar struktur Ornithopter yang menjadi dasar struktur Pesawat modern.

4. Menjadikan Burung sebagai Rujukan Utama Ilmu Penerbangan
Jika anda mengingat bagaimana Ibnu Firnas merevisi alat terbangnya yang pertama menjadi alat terbangnya yang kedua, maka anda akan paham maksud kami di sini. Ibnu Firnas merevisi ukuran 2 sayap pada alatnya yang pertama menjadi lebih besar pada alatnya yang kedua. Tidak hanya itu, beliau mengubah bahan kain yang dipakainya menjadi kain sutera. Termasuk juga, ingatlah bagaimana beliau tambahkan padanya bulu-bulu Elang.

Fakta ini menunjukkan bahwa Ibnu Firnas telah menjadikan struktur Burung sebagai rujukan struktur alat terbangnya. Jika anda melihat kepada “industri kedirgantaraan modern, mereka pun menggunakan mekanisme burung terbang sebagai landasan risetnya. Penelitian ilmiah terhadap struktur tubuh burung dan juga kondisi lingkungan yang membuat burung bisa terbang sangat dipelajari di Barat”.

Sebuah makalah yang ditulis oleh Mohammad Ferandy menjelaskan bagaimana pengaruh ‘ide Burung sebagai rujukan’ ini terhadap dunia penerbangan modern:

“Burung mengepakkan sayapnya untuk memanfaatkan dorongan ketika terbang. Perubahan posisi sudut sayap burung menciptakan gaya angkat. Sementara itu, pesawat terbang memanfaatkan daya dorong dari mesin. Perubahan sudut pada pesawat ada karena bentuk flap sehingga membuatnya bisa terangkat.

Saat mendarat, burung menyesuaikan posisi sayapnya sehingga tubuhnya mendapat tarikan. Sementara ekornya bertindak mengarahkan manuver terbang dan juga menurunkan kecepatan di udara.

Sementara itu pesawat terbang mengubah posisi flap pendaratan di sayapnya untuk meningkatkan tarikan sehingga dorongan berkurang. Ekor pesawat digunakan untuk bermanuver dan juga membuat pesawat lebih stabil. Sayap pesawat terbang juga dirancang menyesuaikan bentuk sayap burung. Insinyur mendesain bentuk sayap pesawat terbang berdasarkan struktur sayap burung yang bisa menekuk ke atas dan kebawah. Bentuk aerodinamis yang luar biasa dari sayap burung membuat badannya bisa terangkat saat dikepakkan untuk take off dan landing.

Pada abad ke-17, Giovanni Alfonso Borelli, seorang penemu berkebangsaan Italia, mempelajari struktur tubuh burung. Penelitiannya menjadi referensi pembuatan pesawat terbang di abad ke-20.”

Di antara teori-teori yang merujuk kepada Burung misalnya adalah salah satu teori milik Wright bersaudara (abad ke-19 M.) misalnya, mereka menyadari bahwa burung berbelok dan menjaga kestabilan di udara dengan mengubah posisi sayapnya. Dan tidak diragukan lagi, Wright bersaudara memiliki peran besar dalam penemuan Pesawat modern hari ini.

5. Teknik Pendaratan dan Fungsi Ekor Pesawat/Alat Terbang
Ingatlah kembali bagaimana kecelakaan menjadi akhir dari penerbangan kedua Ibnu Firnas di tahun 875 M. Kecelakaan ini tidaklah terjadi melainkan karena alat terbang Ibnu Firnas tidak memiliki ekor, sebagaimana beliau akui hal ini sendiri. Beliau memandang bahwa burung apabila ia mendarat, ia akan turun dengan mempergunakan ekornya.

Konsep ‘Ekor’ Ibnu Firnas inilah salah satu sumbangsih terbesar beliau. Bahkan di dunia penerbangan modern hari ini, Pesawat mana yang tidak menggunakan ekor. Sebab ekor Pesawat adalah komponen utama penentu kestabilan pesawat tersebut di saat ia mendarat, yang secara langsung menjadi faktor penentu keselamatan para penumpang.

6. Cikal Bakal Parasut
Dengan jubah lebar bersayap sebagai alat terbang pertama karya Ibnu Firnas, beliau dapat dikatakan sebagai manusia pertama yang membuat sebuah Parasut sederhana. Kami telah menjelaskan hal ini dengan rinci di sub bab Penerbangan Pertama Ibnu Firnas pada tahun 852 M.

PENGAKUAN BARAT TERHADAP IBNU FIRNAS SEBAGAI ‘MANUSIA TERBANG’ PERTAMA DI DUNIA

Pengakuan Barat atas penerbangan Ibnu Firnas sebagai penerbangan pertama bermula dari sebuah studi yang membahas seputar asal mula eksperimen penerbangan di Eropa. Studi tersebut ditulis oleh Lynn Townsend White Jr. (1907-1987 M.), seorang Professor Sejarah Abad Pertengahan di berbagai Universitas di Amerika Serikat, yang berjudul “Eilmer of Malmesbury, an Eleventh Century Aviator: A Case Study of Technological Innovation, Its Context and Tradition” (Eilmer dari Malmesbury, Penerbang Abad ke-11 M., Sebuah Studi Kasus di Bidang Inovasi Teknologi, Konteks dan Tradisinya), diterbitkan dalam Majalah Technology and Culture jilid 2, edisi ke-2 hlm. 97-111, musim semi 1961.

Lynn White menjelaskan bahwa pelopor penerbangan pertama di Eropa adalah Eilmer of Malmesbury, seorang Biarawan di biara Malmesbury Inggris. Eilmer telah melakukan eksperimen penerbangannya di awal abad ke-11 M. Saat itu Eilmer membuat sepayang sayap dari bulu-bulu burung, kemudian dia mengikatkan kedua sayap tersebut pada kedua lengannya dan kedua betisnya. Lalu dia berhasil terbang dalam jarak terbang tertentu. Akan tetapi kemudian dia jatuh ke atas tanah dan mengalami patah tulang di kedua betisnya. Penerbangan ini terjadi pada sekitar tahun 1010 M.

Lalu Lynn White mengomentari penerbangan Eilmer ini dengan berkata:

“Tidaklah mungkin jika inspirasi penerbangan Eilmer berasal dari Sotiunius yang menceritakan tentang kecelakaan maut dari penerbangan Ikaros, yang diperankan oleh seorang pemain dalam sebuah episode Drama Mitologi (Khurafat) yang singkat, di mana para pemerannya menggunakan topeng, sementara Drama ini telah ditampilkan di hadapan Nero (37-68 M.), seorang Kaisar Romawi Kuno.

Tidaklah mungkin pula jika inspirasi penerbangan Eilmer ini berasal dari dongeng-dongeng Mitos Yunani Kuno tentang penerbangan Daidalos dan anaknya Ikaros. Yang mana kisah ini tidak lain hanyalah kisah fantasi mitos yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan fakta-fakta ilmiah dan sejarah.

Akan tetapi, yang paling tepat disebutkan berkaitan dengan masalah ini adalah urgensi penelitian terhadap jejak eksperimen-eksperimen ilmiah empiris terkenal dalam perjalanan Sejarah Peradaban Manusia sebelum datangnya zaman Eilmer. Dan eksperimen ilmiah paling besar dan paling berani yang masih mungkin didapatkan (dokumentasi Sejarah) mengenainya adalah eksperimen Ibnu Firnas.

Sebab eksperimen Ibnu Firnas sama sekali tidak tercemari satu pun kotoran Mitologi (Khurafat) dan fantasi. Melainkan, eksperimen tersebut memiliki karakteristik metodologi ilmiah dengan seluruh standarnya. Ditambah lagi, penerapan eksperimen Ibnu Firnas ini amat sesuai dengan 2 buah teori ilmiah yang diletakkan oleh seorang ilmuwan Muslim terkenal, yang mana 2 teori ini masih saja digunakan hingga hari ini di bidang Penerbangan (Kedirgantaraan).”

[Selesai di sini perkataan Lynn White]

Memang tidak diragukan lagi, penerbangan Ibnu Firnas adalah sebuah fakta Sejarah yang dipersaksikan oleh banyak kalangan. Dan amat mungkin jika eksperimen beliau ini adalah sumber eksperimen selanjutnya bagi orang-orang Eropa di abad ke-11 M. Penjelasan terkait hubungan antara Renaisans dan Peradaban Islam di Cordova adalah sesuatu yang sangat memungkinkan hal ini terjadi.
Amat sangat mungkin bila Eilmer beserta para ilmuwan yang datang pernah membaca suatu bacaan terkait eksperimen penerbangan Ibnu Firnas. Atau paling tidak, setidaknya mereka pernah membaca eksperimen orang-orang yang terinspirasi dengannya, semisal Eilmer, orang yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu penerbangan Dunia. Padahal Eilmer hanyalah seorang Biarawan yang tidak memiliki latar belakang Sains. Bahkan, kita tidak bisa membandingkan antara keilmuan Eilmer dengan Ibnu Firnas di bidang Sains. Amat jauh perbedaan. Lantas, bagaimana bisa seorang Eilmer dengan kapasitas Sains yang minim mampu membuat eksperimen penerbangannya; murni dari pemikirannya sendiri tanpa terinspirasi oleh orang lain?

Demikianlah, hingga hari ini, dunia masih sulit mengakui ‘Abbas bin Firnas sebagai Bapak Perintis Penerbangan (Kedirgantaraan) Dunia, bahkan sumbangsihnya terhadap Ornithopter tidak diakui. Alasannya adalah: tidak ada bukti nyata Ibnu Firnas yang tersisa. Anehnya, tidakkah dunia sadar bahwa Eilmer pun tidak memiliki bukti nyata yang tersisa?

Demikianlah, kita sangat menyayangkan bagaimana para penulis Ensiklopedi-ensiklopedi Sains Modern, saat mereka menulis tentang Sejarah Dunia Penerbangan, mereka hanya mampu bersikap adil kepada seorang Eilmer, akan tetapi mereka lupa (atau pura-pura lupa) terhadap peran penemu Muslim; ‘Abbas bin Firnas. Padahal kedua tokoh ini tidak memiliki bukti nyata yang tersisa hingga hari ini kecuali dokumentasi sejarah.

Tidakkah mereka bisa bersikap netral sebagaimana seorang Phillip K. Hitti (1886-1978 M.), sejarahwan Barat terkemuka, yang pernah menuliskan dalam bukunya ‘History of the Arabs: From the Earliest Times to the Present’: “Abbas bin Firnas adalah manusia pertama dalam sejarah yang melakukan percobaan terbang secara ilmiah.”?

Tidakkah mereka melihat bagaimana WGPSN (the Working Group for Planetary System Nomenclature) pada tahun 1976 memberi nama sebuah kawah di Bulan dengan nama ‘Ibnu Firnas’ sebagai penghormatan atas sumbangsih beliau? Tidakkah mereka lihat pada 14 Januari 2011, dibuka sebuah Jembatan di Cordova, di atas sungai al-Wadiy al-Kabir, dengan nama ‘Jembatan ‘Abbas bin Firnas’ yang didesain oleh ‎José Luis Manzanares Japón? Tidakkah mereka melihat bagaimana di Ronda, Spanyol, dibangun sebuah Astronomical Center yang menyandang nama ‘Ibnu Firnas’?

gambar: Jembatan Abbas bin Firnas di Cordova yang berbentuk 2 sayap, mengingatkan orang yang melihatnya kepada pencapaian Ibnu Firnas
gambar: Kawah di Bulan yang dinamai dengan nama Ibnu Firnas
gambar: Bandara Ibnu Firnas di Baghdad Utara, Irak

VIDEO SEPUTAR IBNU FIRNAS

Sumber:
islamstory.com
pakistanlink.org
arageek.com
ouruba.alwehda.gov.sy
en.wikipedia.org
ar.wikipedia.org

Ditulis oleh:
Ahmad Ubaidillah*

* Mahasiswa Prodi Takmili Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab di Jakarta cabang Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud Riyadh Kerajaan Arab Saudi

Sumber: http://www.hikmapedia.com
Yuk komen
Mohon disebarkan...
belajar mikrotik